Jumat, 12 Mei 2017

TAGIHAN AYAM KEPADA KAMBING

Pada jaman dahulu, ayam jantan mempunyai tanduk di kepalanya. Tanduk itu sangat kuat dan indah, sehingga banyak penghuni hutan yang memuji kegagahannya. Tetapi hal itu tidak membuat ayam jantan sombong, ia masih suka menolong teman-temannya yang dalam kesusahan.

Pada suatu hari salah seorang sahabatnya, yaitu raja kambing, menemuinya,

“Sahabat yang baik hati, tolonglah saya yang dalam kesukaran ini,” kata raja kambing.

“Katakan saja, semoga saya dapat membantu,” jawab ayam jantan.

“Bulan purnama nanti aku akan mengundang seluruh rakyatku untuk memperingati hari kelahiranku. Tapi aku merasa malu kalau tampul memakai mahkota yang itu-itu juga. Maka kedatanganku kesini adalah untuk meminjam mahkota tandukmu itu. Karena di hutan ini hanya mahkotamulah yang terbagus dan kuat,” pinta raja kambing.

“Tanduk yang kupakai ini adalah lambang kebesaran turun temurun,” kata ayam jantan.
“Tetapi karena engkau adalah sahabatku, maka aku akan meminjamkannya,” lanjut ayam jantan.

“Jangan takut, kawan! Aku pasti akan segera mengembalikannya setelah pesta usai. Sebagai jaminan, pakailah mahkotaku ini di kakimu,” kata raja kambing sambil melepaskan mahkotanya.

Pada hari yang ditentukan, kambing merasa bangga sekali karena setiap tamu memuji kegagahannya dengan memakai tanduk itu. Melihat hal itu, timbullah niat jahat raja kambing. Setelah pesta usai, raja kambing mengajak seluruh rakyatnya menyingkir jauh dari tempat itu. Tetapi di tengah jalan mereka diserang sekawanan singa yang lapar, semua rakyatnya mati. Tinggal raja kambing yang berlari sekuat-kuatnya dengan membawa tanduk ayam jantan.

Ayam jantan bersedih dengan tanduknya yang tak dikembalikan. Setiap pagi ia berkokok membangunkan petani, maksudnya adalah untuk menagih janji kambing padanya.

Sampai sekarang tanduk itu masih di kepala kambing, dan tanduk kambing di kaki ayam jantan, yang dinamakan jalu/taji.

HIDUNG PANJANG SI GAJAH

Pada jaman dahulu, tinggallah sekawanan gajah di hutan. Ketika itu hidung mereka masih berupa tonjolan pendek, seperti hidung kebanyakan hewan yang lain. Mereka harus menunduk dan mencium-cium tanah mencari makanan. Dan kalau mandi, mereka harus masuk ke air membenamkan diri serta menggosok-gosokkan badan mereka ke batu sungai.

Suatu hari seekor gajah duduk di tepI sungai minum. Ketika membungkuk, tiba-tiba seekor buaya yang kelaparan menyambar hidung gajah, menggigitnya dan kembali menyelam sambil berusaha menarik gajah itu ke dalam air. Tentu saja si gajah bertahan. Ia berusaha menarik kembali hidungnya dari mulut buaya yang berbau busuk itu.

Malam semakin dingin dan bulan tersenyum geli menyaksikannya. Akhirnya hidung gajah mulai memanjang. Mula-mula sepuluh centi, lalu dua puluh lima centi, lima puluh, satu meter……dua meter……dan ketika fajar menyingsing, hidung gajah menjadi dua meter lebih panjangnya. Sang matahari yang baru bangun menggosok-gosokkan matanya dengan takjub. Dan segenap alam membuka mata lebar-lebar, terheran-heran.

Ketika mulai bosan dengan permainan tarik menarik hidung itu, gajah menyentakkan dengan tiba-tiba sehingga buaya terpental dengan keras, menimpa batu-batuan dan mati. Gajah sendiri sangat heran dengan kekuatan hidungnya yang panjang itu. Dicobanya untuk menyentuh punggungnya, meraih pucuk-pucuk pohon mangga, mengangkat batu yang besar,……semua itu dapat dikerjakannya dengan mudah! Maka dengan riang ia kembali bergabung dengan kawan-kawannya.

Tetapi, apa yang terjadi? Semua gajah tercengan melihatnya. Mereka ketakutan,

“Dia telah terkena sihir,” kata mereka.

Dan gajah itupun dikucilkan oleh teman-temannya. Dengan sedih menyingkirlah ia jauh ke dalam hutan. Kemudian datanglah musim kemarau. Daun-daun dan rumput layu kekeringan. Makanan untuk gajah tidak ada lagi, karena dahan-dahan yang muda telah habis mereka lahap. Gajah-gajah itu merasa putus asa. Akan halnya gajah berhidung panjang yang mereka usir dahulu, muncul dengan badan segar, tanpa kekurangan suatu apapun. Sebab dia dapat makan daun-daunan dari pepohonan yang tinggi, yang tak dapat diraih oleh teman-temannya.


Barulah kawanan gajah itu sadar bahwa hidung yang panjang akan bermanfaat sekali. Maka mereka pun beramai-ramai mengadakan perjanjian tarik hidung dengan buaya di sungai. Imbalannya, makan siang bagi buaya. Akhirnya hidung setiap gajah dalam kawanan itu panjang-panjang. Mulai saat itu mereka dapat menyemprotkan air ke tubuh mereka, makan tanpa harus membungkuk-bungkuk, minum dapat sambil berdiri. Semua itu dapat dilakukan karena hidung mereka yang panjang. Juga kini mereka dapat menempelkan lumpur ke bagian tubuh yang sakit, dan tentunya……juga untuk menghancurkan lawan dengan sekali pukul. Kawanan gajah keturunan mereka dengan sendirinya berhidung panjang pula, tanpa bantuan buaya, seperti yang kita lihat sekarang.

KEJUJURAN

ADALAH SEORANG yang telah mengelabui orang banyak dengan berpura-pura berhati bersih dan jujur.

Demikianlah, sebelum ia menerima suatu jabatan yang penting, ia telah bersumpah di hadapan rakyat banyak,

“Jika salah satu dari tangan saya ini mau menerima uang suap yang diharamkan oleh Tuhan, biarlah tangan yang menerimanya itu Tuhan takdirkan menjadi busuk sampai akhir hidupku,”

Maka beberapa minggu kemudian sesudah orang itu memegang jabatannya yang penting, datanglah seorang raja penyelundup menemuinya. Ia menyodorkan uang suap, yang sangat besar jumlahnya, yang membuat hati sang Pejabat penting itu ingin menerimanya. Tetapi tentu saja ia ingat dan takut akan akibat sumpah yang pernah ia ucapkan di depan rakyat banyak.

Raja penyelundup itu lalu menolong dengan bicara begini,

“Bapak Pejabat, uang haram ini jangan diterima dengan tangan. Baiklah bapak terima dengan sarung tangan saja. Kalau mesti menjadi busuk, biarlah sarung tangan itu yang akan menjadi busuk akibat sumpah itu.”


Sang Pejabat itu pun lalu memanggut manggutkan kepalanya.

MENCARI KEBENARAN

Adalah seorang petani yang tinggal bersama istrinya dalam sebuah gubuk. Petani itu sangatlah penakut, bila ada ular atau kodok ia pasti lari ketakutan. Ia juga amat takut dengan binatang-binatang lain.

Akibatnya pekerjaan tak pernah beres. Jika ia sedang mencangkul di sawah, tiba-tiba lewat seekor tikus, ia lari terbirit-birit. Tentu saja istri petani juga tidak senang melihat tabiat suaminya itu.
Petani itu sebenarnya juga ingin menghilangkan sifat buruknya. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi mencari keberanian.

Dalam perjalanan, petani bertemu dengan singa yang buas. Karena poetani mengira keberanian bisa dicari, maka ia menanyakan kepada singa tersebut. Singa merasa mendapat kesempatan untuk menipu petani, maka dijalankanlah tipu muslihatnya.

“Ooo……kau mencari keberanian! Ketahuilah, bahwa keberanian itu ada di dalam perutku. Masuklah ke dalam mulutku, maka keberanian itu akan terlihat olehmu,” kata Singa mulai bersiasat.

Ketika petani mendekat, singa menerkam, untung petani siap dengan pisau di tangan. Perut Singa terkoyak pisau dan akhirnya mati.

Petani berjalan lagi, bertemulah dia dengan ular. Ular pun hendak menipu seperti Singa, tetapi gagal karena segera kepala ular terpenggal pisau petani.

Begitulah, hal itu terjadi terus, dua kali petani hendak ditipu oleh macan dan buaya. Tetapi petani memang cukup waspada.

Akhirnya petani kelelahan, ia bermaksud pulang ke rumahnya.ia sangat sedih tak dapat menemukan keberanian, sesampainya di rumah diceritakannyasemua yang dialami kepada istrinya. Istri petani tercengang mendengar petani berani berhadapan dengan binatang buas. Lalu dikatakannya kepada suaminya bahwa keberanian itu sudah didapat suaminya.


“Bukankah membunuh binatang buas itu juga suatu keberanian?” kata istrinya dengan bangga

KEPUTUSAN HAKIM

Di sebuah daerah permukiman di luar kota, sedang dibangun sebuah rumah mewah. Rumah itu sudah hampir selesai. Tinggal memasang daun-daun jendelanya saja.

Seorang saudagar yang sedang berkelana di daerah itu, lewat di depan rumah mewah tersebut. Dia berhenti untuk memperhatikan keindahan rumah tersebut.

“Pasti orang yang memilikinya seorang pejabat tinggi,” ujarnya sambil memandang pada sebuah lambang kerajaan di sebuah pintu.

Pada saat itu terlempar sebuah bata, tepat mengenai punggung saudagar itu. Bata itu berasal dari bagian penopang bingkai jendela.

“Aduh, punggungku sakit sekali!” seru saudagar itu.

Maka ia pun memanggil tukang kayu yang memasang daun jendela dan memaki-makinya. Tukang kayu merasa dirinya tidak bersalah.

“Bukan aku yang bersalah, Tuan. Tetapi pemilik rumah. Aku ingin memperoleh keadilan!” ujar tukang kayu.

Maka tukang kayu mengajukan pemilik rumah ke pengadilan. Hakim di kota itu konon seorang Hakim yang cerdik, serta pintar memecahkan suatu persoalan. Namun terkadang hukuman yang dijatuhkan tidak dipikirnya panjang. Tidak jarang Hakim menjatuhkan hukuman pada seseorang yang tidak bersalah, namun semua itu harus dipatuhi seluruh warganya.

Sampai dihadapan Hakim, berlututlah pemilik rumah, dan berkatalah ia mengiba ,

“Tuan Hakim, maafkanlah hamba. Namun sebenarnya kejadian ini bukan kesalahan hamba. Sebenarnya adalah kesalahan tukang batu yang memasang bata pada bagian penopang jendela.”

Maka Hakim memerintahkan menyeret tukang batu ke pengadilan. Dengan muka membayangkan rasa takut, tukang batu menghadap Hakim.

“Hai tukang batu, kecelakaan yang menimpa saudagar adalah karena kesalahanmu. Kau tidak cermat memasang sebuah bata penopang jendela. Nah, sebelum hukuman kujatuhkan, ucapkan sepatah dua patah kata pembelaan,” ujar Hakim.

Tukang batu pun berlutut, dan berkatalah ia,

“Yang Mulia, semua itu kesalahan Fatimah yang pada pagi hari pada saat hamba memasang bata, muncul dengan gaun warna merah menyala. Hamba terpesona akan kecantikannya. Oleh karena itu hamba lupa merekat bata dengan adonan semen. Bata itu hamba tempel begitu saja, tanpa penguat.”

Hakim kemudian menyuruh memanggil Fatimah. Dengan masih memakai gaun merahnya yang menyala, Fatimah menghadap Hakim. Sesaat Hakim terpukau melihat pemandangan di depannya. Hampir-hampir ia tidak bisa mengucap sepatah kata pun, kalau tidak disenggol oleh ajudannya.

“Oh, oh, Fatimah……Hmmm, mengapa engkau mengenakan gaun yang menyolok semacam itu? Bukankah hal itu akan mengakibatkan keributan?”
“Yang Mulia, sebenarnya hamba kurang senang dengan warna gaun ini. Hamba menginginkan warna kelabu, atau hijau muda, seperti yang dipakai para wanita disini. Tetapi di toko persediaan warna itu sudah habis. Yang ada tinggal warna merah saja,” sahut Fatimah.

Hakim pun tertawa mengakak, kemudian ujarnya,

“Hmmm, jelas sekarang siapa yang bersalah. Panggil pemilik toko kemari! Dia pantas mendapat hukuman berat!”

Dalam waktu singkat, pemilik toko tiba di tempat itu. Lelaki itu bertubuh sangat jangkung. Pada waktu ditanya Hakim mengapa dia menjual kain berwarna merah menyala, ia menjawab,

“Hamba telah memesan berbagai warna kain dari sebuah usaha dagang Inggris, tetapi yang dikirim hanya warna merah menyala saja.”

Mendengar kata “Inggris” , hakim memuncak kemarahannya.

“Jadi kau telah bekerja sama dengan penjajah Inggris !
Algojo ! Gantung pemilik toko ini di ambang pintu tokonya, sebagai contoh agar bisa dilihat penduduk lain ! Inggris adalah musuh kita. Mereka adalah penjajah tengik!”

Dua jam kemudian algojo kembali dengan muka murung. Tanya Hakim,

“Apakah pemilik toko telah meninggal?”
“Belum, Yang Mulia,” sahut algojo.
“Sosoknya tinggi dan sebaliknya pintu tokonya sangat rendah. Kami telah mengikat lehernya ke tiang gantungan. Tetapi celaka, kakinya masih menginjak tanah, jadi sampai sekarang ia masih hidup.”

“Kalau begitu cepat cari seseorang yang bertubuh pendek sebagai gantinya!” seru Hakim, dan perintahnya memang harus dilaksanakan.

MINYAK MUSTAJAB

Entah sudah berapa lama paman Babalaika, atau yang sering dijuluki orang si Penyihir Linglung Berambut Gondrong itu, sibuk mengatur botol-botol obatnya yang berisi minyak ajaib yang sanggup merubah seseorang menjadi sesuatu yang lain. Obat itu disusunnya satu persatu sesuai dengan urutan abjad. Sebotol minyak yang mampu merubah seseorang menjadi Kera misalnya, tentu disatukan dakam deretan botol-botol yang mulai dengan huruf K, misalnya Kucing.

Tapi ada sebuah botol yang telah hilang labelnya, membuat Paman Babalaika bingung tujuh keliling.

“Wah, wah,” ujarnya dengan mengeluh.
“Entah untuk apa obat ini?”

Dan ia pun mulai berfikir dan mengingat-ingat. Tentu saja sia-sia buat seseorang yang sering linglung seperti dia untuk bisa mengingat sesuatu. Dan tiba-tiba ada sebuah ketokan di pintu.

“Kucing cacingan!” paman Babalaika mengumpat.
“Tidak pernah orang membiarkan saya tenang. Selalu saja diganggu.”

Lalu ia bergegas ke pintu.

“Lain kali saja. Saya terlalu sibuk.”

Tapi sang tamu adalah seekor tikus. Dan seperti yang diketahui, tikus selalu diusir orang bila kelihatan, maka ketika ia disuruh pergi oleh paman Babalaika, ia merasa biasa saja.

“Saya mau beli obat mustajab paman Babalaika,” ujar tikus itu.
“Saya bosan sekali menjadi seekor tikus. Selalu diusir-usir orang. Kalau tidak, dipasang perangkap, atau dipukuli dengan sapu. Saya ingin menjadi sesuatu yang lain.”
“Mau jadi apa?” tanya paman Babalaika.
“Entahlah. Saya belum lagi mengambil keputusan. Pokoknya menjadi sesuatu yang lain.”
“Wah kalau kau mau pilih, sekarang ini sangat sulit. Seluruhnya masih kacau balau. Datanglah besok sore……”

Dan tiba-tiba paman Babalaika teringat pada botol yang dipegangnya dari tadi.

“Kalau mau ini, ambillah dan segera pergi dari sini.”

Sang Tikus menerima botol itu, tapi ia tidak melihat ada labelnya. Maka ia pun bertanya kepada paman Babalaika.

“Dengan meminum obat ini, saya bakal menjadi apa?”
“Entahlah. Tapi seperti apa yang kamu bilang tadi, kau akan menjadi sesuatu yang lain,” kata paman Babalaika.
“Pergilah dan tak usah bayar.”

Dan kemudian……bang!!!......pintu itu pun dibanting oleh paman Babalaika sehingga tertutup.
Sang Tikus segera pulang. Ia meletakkan botol itu di atas meja, lalu mencari pembuka botol. Dan sementara mencari alat itu, ia mulai mencoba menerka-nerka, akan jadi apakah ia bila meminum obat itu.

Menjadi kupu-kupu, itulah bayangan yang muncul mula-mula di otaknya. Kupu-kupu memang indah, tapi sayang umurnya amat pendek dan itulah yang tidak disukainya.

“Kalau hidup ini indah, kenapa umur kita harus pendek?” begitu pikirnya.

Atau menjadi kura-kura. Kura-kura umurnya panjang, bahkan amat panjang. Tapi bentuknya amat jelek. Lagi pula langkahnya amat pelan, seolah-olah penuh dengan penderitaan. Kontan saja ia menolak untuk menjadi seekor kura-kura.

Lebah terhitung binatang yang cepat dan lincah. Tapi mereka bekerja membanting tulang, seolah-olah hidup ini tanpa pesta lagi. Dan bekerja memang bukanlah termasuk sesuatu yang disukai oleh bangsa tikus.

“Atau, bagaimana kalau saya menjadi seekor kucing?” pikirnya.

Nampak ada cahaya dalam matanya yang kecil itu, tapi tiba-tiba menjadi pudar manakala ia ingat bahwa kucing senang sekali memakan tikus. Sampai ke situ saja, sudah membuat wajahnya pucat.

“Menjadi seekor burung, yang dengan bebas terbang di udara. Ya, ya.”

Ia menemukan sesuatu yang hampir berkenan di hatinya, tapi yang segera dibuangnya jauh-jauh pikiran itu, manakala teringat bahwa burung suka makan cacing.

“Hiiiii…jijik!”

Dengan putus asa ia menemukan bahwa ia tidak menemukan sesuatu yang cocok untuk dirinya. Ia bertopang dagu, tapi tiba-tiba ia merasa sangat gembira.

“Menjadi seekor tikus tentu banyak kesukaran yang bakal saya hadapi,” ujarnya dalam hati.
“Tapi saya tahu kesukarannya dan saya bisa usahakan jalan untuk mengatasinya. Sedangkan kalau menjadi sesuatu yang lain, juga ada kesukarannya. Celakanya saya belum mengerti apa kesukarannya.”

Tentu saja ia tidak jadi meminum obat itu. Dan sebentar kemudian ia sudah berada di jalan raya untuk mengembalikan obat itu.

Ketika ia mengetuk pintu, paman Babalaika masih juga sibuk menyusun botol-botol obatnya. Dan ketika paman Babalaika membukakan pintu, ia tidak lagi mengenal sang Tikus.

“Wah, sekarang anda sudah berubah, sahabatku,” ujarnya gembira.
“Ya, ya. Saya sudah berubah,” sahut sang Tikus.
“Apakah karena obat saya?”
“Menurut pendapat saya, ya. Mulanya saya adalah seekor tikus yang tidak berbahagia dan sekarang saya berubah menjadi seekor tikus yang berbahagia menjadi tikus,” sahut sang Tikus.

Mendengar jawaban sang Tikus, paman Babalaika begitu terkejut, sampai untuk beberapa saat ia tidak berkata apa-apa.

“Wah, inilah yang pertama kalinya obat saya berhasil dan bekerja dengan baik.”
“Dan kelihatannya bahwa hasilnya dua kali,” ujar sang Tikus pula.
“Ia berhasil membuat kita berdua bahagia!”

Dan tahukah apa yang selanjutnya diperbuat oleh paman Babalaika? Semua obat-obat itu dilepaskan label-labelnya. Letaknya juga tidak perlu beraturan lagi. Dan bilamana ada yang merasa susah atau tidak berbahagia, ia bisa datang pada paman Babalaika. Ia pasti memperoleh sebotol obat tanpa label.

Dan obat itu pasti bekerja sangat mujarab, sejauh obat itu tidak diminum sama sekali.

LEGENDA KARANG BOLONG

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Pak Miam sudah berangkat ke goa batu karang di pantai Laut Selatan untuk menghaturkan persembahan bagi Nyi Roro Kidul. Dia disertai anak lelakinya yang bernama Kerta. Persembahan itu berupa nasi kuning dan daging ayam, dibungkus dengan sehelai kain putih. Persembahan itu dibawa oleh Kerta.

Bagi orang yang membawa persembahan diharuskan untuk berpuasa sampai upacara selesai, kalau tidak akan dikutuk oleh Nyi Roro Kidul.

Dalam perjalanan terasa perut Kerta lapar. Dengan jari kelingkingnya dikoreknya isi dalam bungkusan. Akhirnya diperolehnya sepotong daging ayam, dicongkelnya keluar dan dimakannya tanpa setahu ayahnya. Persembahan itu akhirnya diserahkan kepada seorang pendeta yang berjaga disana. Kerta merasa gembira karena ayahnya atau pendeta tidak tahu bahwa isi persembahan itu sedikit berkurang.

Pendeta itu menerima persembahan tersebut tanpa bertanya lebih lanjut. Namun Nyi Roro Kidul tahu hal itu semua. Malam harinya, Pak Miam tidak pulang. Kerta bermimpi dimana dia bertemu dengan petenung perempuan tua yang berwajah sangat buruk, matanya bernyala merah menakutkan. Dia berbicara dengan suara bergetar,

“Hai Kerta, karena kesalahanmu ayahmu menderita. Kau telah mencuri makananku! Aku telah menceburkannya ke dalam Goa Gurita, di sana ia akan tewas kelaparan atau dimakan gurita.”

Kerta terbangun sambil menjerit. Dilihatnya ibunya masih terjaga, masih menunggu suaminya. Dikisahkan oleh Kerta mimpinya yang menakutkan. Tetapi jawab ibunya,

“Tidurlah kembali, Nak, kita memang tidak bisa berbuat apa-apa.”

Kerta berbaring tidur lagi, tetapi sekali lagi ia bermimpi. Kali ini ia bertemu seorang wanita muda teramat cantik jelita dan anggun, yang berkata lembut terhadapnya,

“Aku akan memaafkanmu, jika kau berjanji patuh terhadapku. Kau harus membebaskan ayahmu sendiri. Kau bisa mencapai Goa Gurita dari Goa Masjid Sela. Pergilah ke sana dan kau akan menjumpa isalah seorang pelayanku yang akan membantumu.”

Kerta terbangun dengan rasa takut. Dilihatnya fajar sudah menyingsing. Katanya kepada ibunya,

“Mbok, aku harus pergi untuk menyelamatkan ayah.”

Setelah bertanya sana sini pada para nelayan serta para pencari sarang burung, akhirnya diketahuinya dari tempat mana dia bisa turun dari goa di batu karang menuruni Goa Gurita.

Di dalam goa pertama, Kerta melihat secercah cahaya berasal dari Manusia Kaca, yaitu sesosok tubuh yang berkilap seperti Kristal yang merupakan juga salah seorang pelayan Nyi Roro Kidul. Katanya kepada Kerta,

“Aku dulu menyalahi peraturan Nyi Roro Kidul, dan disinilah makamku. Beliau member aku izin bangkit seabad sekali untuk muncul dalam bentuk ini dan menolong seseorang yang dalam kesulitan. Malam ini adalah malam yang kumaksud. Aku hanya menjelma sampai senja hari.”

Manusia Kaca menggoyangkan tangannya ke muka Kerta dan jadilah tubuh anak itu panjang dan penuh sisik, berdiri di atas ke empat kaki-kakinya yang pendek. Dia telah berubah bentuk menjadi seekor kadal. Dalam bentuknya yang ramping Kerta bisa berjalan merayap melintasi celah sampai antara Goa Masjid Sela dan Goa Gurita. Di dalam goa itu terdapat banyak ikan gurita. Ada beberapa diantaranya ikan gurita raksasa. Ombak besar meraung-raung di pintu masuk menerpa pada karang. Kerta merangkak masuk dan beberapa jam kemudian dia menemukan ayahnya. Dan astaga, Pak Miam pun telah berubah bentuk menjadi seekor kadal. Orang tua itu kelelahan oleh karena itu Kerta harus menyeretnya melintasi lantai goa yang kasar dan melintasai celah jalan yang sempit. Akhirnya, setelah hampir sampai kebebasannya, Kerta tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Dipanggil-panggilnya Manusia Kaca, yang seketika itu muncul dan membantu Pak Miam keluar dari celah jalan. Setelah ayahnya terbebas, Manusia Kaca mengubahnya kembali menjadi bentuk manusia. Pak Miam merasa segar bugar kembali dan dirinya merasa lebih muda dan kuat. Pada saat ia hendak membebaskan anaknya, matahari tenggelam ke peraduan sehingga Manusia Kaca harus kembali ke makamnya. Kerta menerima hukumannya. Sisa-sisa hidupnya dihabiskannya di dalam goa karang dalam bentuk seekor kadal. Itulah hukuman karena dia telah melanggar larangan Nyi Roro Kidul.

Sekarang tempat di pantai itu disebut Segara Anakan, tak jauh dari situ terdapat tempat bernama Karang Bolong